Melihat Lebih Dekat Bank Sampah Unit Andalas Sepakat

Sumaterakita.com - Bangunan sederhana yang terletak di Kelurahan Andalas, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, awalnya hanya sebuah posko pemuda. Namun sejak Maret 2019, disulap menjadi Posko Bank Sampah Unit (BSU) Andalas Sepakat.

Sampai saat ini nasabahnya sudah berjumlah 100 orang. Nasabahnya berasal dari warga sekitar dan daerah lain.

Jumat (20/12), Dharmawanita Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) Universitas Andalas (Unand) melakukan kunjungan ke Bank Sampah Unit Andalas Sepakat guna mendapatkan informasi terkait pengelolaan bank sampah yang dilakukan.

Sekretaris Dharmawanita Fateta Unand, Rahmi Awalina menuturkan, dengan mengunjungi dan melihat secara dekat, tentu bisa dipetik pembelajaran soal pengelolaan sampah.

Selain itu, sambungnya, menjadi motivasi bagi kampus khususnya Fateta Unand dalam menginisiasi berdirinya bank sampah di tingkat fakultas. "Dengan melibatkan dosen, pegawai dan mahasiswa (civitas akademika Fateta) bisa mengurangi dampak dari sampah yang dihasilkan fakutas setiap hari," terangnya.

Ke depan, sambung Rahmi, juga bisa dilibatkan unit kegiatan mahasiswa (UKM) dalam proses pendirian bank sampah fakultas.

Saat ini, BSU Andalas Sepakat sudah bekerjasama dengan Bank Nagari dan Pegadaian dalam pengelolaan bank sampah.

Hasil sampah yang dikumpulkan nasabah dikonversi menjadi tabungan uang atau emas.

Sampah akan diantarkan oleh nasabah setiap minggu ke posko dan dilakukan penimbangan. Tapi, tidak semua sampah yang diterima, karena ada kriterianya.

Ada pun sampah yang diterima yang menjadi nilai jual tinggi khususnya sampah non organik seperti kertas (koran, kertas HVS, kertas buram, undangan, kulit majalah); plastik (bekas botol minuman air mineral, galon air, dispenser); kaca (botol kaca); logam (tembaga, kuningan, aki mobil, kampas rem, aki motor, plat sepeda, dan lainnya); dan peletak telur.

Wakil Direktur BSU Andalas Sepakat Rivo Indra Yuna menjelaskan, Posko BSU Andalas Sepakat buka sekali dalam 2 minggu, dan transaksi dilakukan pada hari Minggu.

"Buka pukul 09.00 WIB sampai sore," ujarnya.

Pengurus BSU Andalas Sepakat terdiri dari beberapa divisi di antaranya Divisi Daur Ulang, Divisi Bidang Pemasaran, Divisi Penimbangan dan Pengambilan Sampah, serta Divisi Kerajinan Daur Ulang. 

Dalam perkembangannya BSU Adalas Sepakat terus melakukan inovasi dan kerja sama dengan berbagai pigak seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dalam pembuatan kompos dan solar bio digester. 

"Nagari-nagari di Sumatra Barat sudah banyak didampingi untuk pendirian bank sampah, salah satunya di Nagari Taram, Kabupaten Limapuluh Kota," bilang Rivo.

Di BSU Andalas Sepakat, kita bisa melihat geliat warga sekitar terutama kaum perempuan, mengolah sampah menjadi barang dengan nilai jual tinggi. Proses daur ulang, dilakukan dengan kecakapan tangan masing-masing.

Nah, hasilnya bisa menjadi kerajinan tas, pernak-pernik asesoris jilbab, hiasan lampu tidur, dan lainnya.

Menariknya lagi, meski menampung beragam sampah, tidak ditemukan tumpukan sampah. Untuk barang yang diolah dikumpulkan di suatu tempat, sementara sampah seperti kertas, hari itu langsung diambil pengepul besar.

"Jadi bank sampah itu bukan bak sampah," pungkas Rivo.