Angka Kemiskinan Sawahlunto Terendah di Sumbar

Sumaterakiat.com - Kota Sawahlunto menjadi daerah paling rendah angka kemiskinan di Sumatra Barat (Sumbar) di tahun 2019. Kepala BPS Sawahlunto, Hendro Seprita Deza menyebutkan bahwa berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilaksanakan pihaknya, dengan memperoleh angka kemiskinan 2,17 persen itu, jumlah penduduk miskin di Sawahlunto pada 2019 yakni 1.350 jiwa.

“Ada penurunan yang berhasil dicapai dari tahun sebelumnya, yakni di 2018 saat itu jumlah penduduk miskin Sawahlunto mencapai 1.480 jiwa”, kata Hendro, tempo hari.

Ditambahkan Hendro, untuk garis kemiskinan di Kota Sawahlunto sekarang ini berada pada level Rp 374.615,- per kapita tiap bulannya. Garis kemiskinan ini meningkat dari tahun 2018 yang berada pada level Rp 354.665,- per kapita tiap bulan.

Menanggapi keberhasilan turunnya angka kemiskinan di Kota Sawahlunto, Walikota Deri Asta mengatakan bersyukur bahwa itu menunjukkan berbagai program pengentasan kemiskinan yang dijalankan Pemko Sawahlunto membuahkan hasil yang nyata berkurangnya penduduk miskin di ‘Kota Arang’ tersebut. Sekaligus, Walikota Deri Asta mengingatkan bahwa tugas dan kinerja Pemko dalam mengurangi angka kemiskinan masih ada dan harus ditingkatkan lebih baik lagi.

“Penurunan angka kemiskinan ini merupakan salah satu fokus kami sehingga masuk dalam prioritas yang sudah diterjemahkan dalam RPJMD. Dalam target RPJMD kita itu 2,27 persen, Alhamdulillah ternyata setelah disurvei BPS, penurunan angka kemiskinannya ternyata melebihi target kita karena sudah mencapai 2,17 persen,. Bonusnya ternyata dengan pencapaian itu, kita kembali menjadi Kota dengan angka kemiskinan paling rendah di Sumatera Barat,” ujar Walikota Deri Asta.

Pencapaian ini, kata Deri tidak boleh membuat jajarannya di Pemko berpuas diri, malah harus lebih terpacu lagi untuk menuntaskan misi penanggulangan kemiskinan.

“Berbagai program pengentasan kemiskinan terus kita lanjutkan, kemudian di 2020 ini kita menekankan kepada jajaran Kepala Desa agar mengalokasikan Anggaran Dana Desa (ADD) untuk penanggulangan kemiskinan ini. Tiap desa mengalokasikan minimal untuk 10 KK miskin, dialokasikan bantuan program pemberdayaan ekonomi. Nanti jenis bantuan produktifnya boleh disesuaikan dengan kemampuan penerima bantuan, misalnya bantuan ternak, atau bisa juga pengembangan usaha,” kata Deri.

Program tersebut, nantinya bakal dikontrol langsung oleh Tim Penanggulangan Kemiskinan Kota yang berisi seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Sawahlunto. Terkhusus pada OPD, Walikota Deri Asta juga meminta agar pelaksanaan kegiatan/program dapat memberikan perhatian khusus bagi keluarga miskin.

Pemko Sawahlunto sekarang ini memang telah menjalankan berbagai program untuk mengurangi angka kemiskinan ini. Program ini menyentuh dari sejumlah bidang, tidak hanya ekonomi namun juga pendidikan, kesehatan dan lainnya.

Disampaikan oleh Kepala Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Barenlitbangda) Sawahlunto, Mukhsis bahwa program Pemko dalam menyentuh keluarga miskin ini antara lain ; pemberian bantuan ekonomi produktif, menggratiskan biaya pengobatan melalui BPJS, beasiswa, bantuan seragam sekolah dan bantuan rehab rumah tidak layak huni.

“Dari segi ekonomi produktif pertanian, ada bantuan ternak ayam, kambing dan itik. Untuk bibit tanaman juga ada sukun, manggis dan pinang. Sementara, bidang industri juga ada bantuan alat tenun, alat pemecah kemiri dan lainnya. Untuk keluarga miskin yang butuh mengembangkan usaha juga difasilitasi dengan bantuan Wirausaha Pemula, Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dan nanti juga ada Dana Bergulir,” kata Mukhsis.